TANYA: Apakah Rasulullah melakukan sholat sunat Dhuha tiap hari?
JAWAB: Tidak. Belum ditemukan keterangan atau riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw medawamkan atau membiasakan shalat sunah Dhuha setiap hari.
Hanya disebutkan, Rasulullah Saw sering melaksanakan Shalat Dhuha dan hukum shalat dhuha ini “sunah muakkadah” (sunah yang sangat dianjurkan).
Mu’adzah berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah r.a.: “Apakah Rasulullah Saw sering mengerjakan shalat dhuha?” Ia menjawab: “Tentu, beliau sering mengerjakan shalat dhuha empat rakaat, bahkan lebih dari itu, seluang waktu yang diberikan Allah Ta'ala ” (HR. Muslim).
Abdullah bin Syaqiq pernah bertanya kepada Aisyah r.a. : "Apakah Rasulullah SAW melaksanakan sholat dhuha ?" Ia menjawab: "Tidak, kecuali jika beliau pulang dari berpergian" (HR. Bukhari, Muslim, Malik, Abu Daud, An-Nasa'i).
Dari Ka’ab bin Malik r.a., "Rasulullah SAW bila datang dari berpergian, beliau datang ke masjid dan melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian beliau duduk mengahadap para shahabatnya" (HR. Bukhari Muslim).
Apakah dengan Rasulullah Saw tidak Sholat Dhuha Tiap Hari kita juga tidak harus melakukannya tiap hari? Tidak begitu.
Sebagaimana tidak ada contoh shalat dhuha tiap hari, tidak ada juga larangan melaksanakan shalat sunah dhuha setiap hari. Jadi, kalo soal hukum shalat dhuha tiap hari, maka boleh (mubah). Status shalat dhuha sendiri “sunah muakkadah” (sunah yang sangat dianjurkan). Wallahu a’lam bis-shawabi.*
Sunday, May 31, 2015
Thursday, May 21, 2015
Hukum Kumandang Bacaan Quran di Masjid Sebelum Shalat Jumat
Hukum Kumandang Bacaan Al-Quran di Masjid Sebelum Shalat Jumat
TANYA: Di waktu menjelang shalat atau khutbah jumat, ada atau banyak masjid yang suka mengumandangkan atau memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran via pengeras suara (speaker), tapi ada juga yang tidak. Mohon penjelasan, bagaimana hukumnya?
JAWAB: Masjid yang memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran via pengeras suara sebelum masuk waktu shalat Jumat menganggapnya sebagai "pengingat" agar kaum Muslim bersiap-siap ke masjid untuk sholat Jumat atau mengingatkan umat Islam bahwa hari ini adalah hari Jumat.
Pengurus masjid yang tidak melakukannya menilai hal tersebut “mengada-ada” dan/atau khawatir hal itu "membuat tidak nyaman" warga sekitar masjid.
Sejauh ini, kami belum menemukan keterangan (dalil) yang menyebutkan hal tersebut dilakukan atau terjadi pada masa Rasulullah Saw dan para sahabat.
Karenanya, sebagian ulama berpendapat, memperdengarkan bacaan Al-Quran sebelum adzan Jumat (juga adzan waktu shalat lainnya) dengan menggunakan pengeras suara, adalah hal yang diada-adakan atau "kreativitas" pihak masjid saja.
Hal itu memang akan mengganggu orang-orang yang sedang shalat sunat, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa sambil menunggu khotib naik mimbar di masjid. Di sisi lain, kita diperintahkan mendengarkan dengan baik jika ayat Quran dibacakan:
"Dan apabila dibacakan(kepadamu) ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka dengarkanlah dia dan perhatikan agar kamu diberikan rahmat" (QS. Al-A'raf:204).
Diriwayatkan, Rasulullah Saw keluar menemui orang-orang yang sedang mengerjakan shalat, sementara suara mereka terdengar keras membaca Al-Quran, maka beliau bersabda:
“Sesungguhnya orang yang shalat itu bermunajat kepada Rabbnya, karenanya hendaklah dia memperhatikan dengan apa ia bermunajat. Dan janganlah sebagian dari kalian mengeraskan suara atas sebagian yang lain dalam membaca Al-Quran”. (HR. Malik, Ahmad, Al-Baihaqi).
Nabi Saw juga pernah menemui beberapa orang yang sedang shalat di bulan Ramadhan dan mereka mengeraskan bacaannya. Lalu beliau berkata pada mereka,
TANYA: Di waktu menjelang shalat atau khutbah jumat, ada atau banyak masjid yang suka mengumandangkan atau memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran via pengeras suara (speaker), tapi ada juga yang tidak. Mohon penjelasan, bagaimana hukumnya?
JAWAB: Masjid yang memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran via pengeras suara sebelum masuk waktu shalat Jumat menganggapnya sebagai "pengingat" agar kaum Muslim bersiap-siap ke masjid untuk sholat Jumat atau mengingatkan umat Islam bahwa hari ini adalah hari Jumat.
Pengurus masjid yang tidak melakukannya menilai hal tersebut “mengada-ada” dan/atau khawatir hal itu "membuat tidak nyaman" warga sekitar masjid.
Sejauh ini, kami belum menemukan keterangan (dalil) yang menyebutkan hal tersebut dilakukan atau terjadi pada masa Rasulullah Saw dan para sahabat.
Karenanya, sebagian ulama berpendapat, memperdengarkan bacaan Al-Quran sebelum adzan Jumat (juga adzan waktu shalat lainnya) dengan menggunakan pengeras suara, adalah hal yang diada-adakan atau "kreativitas" pihak masjid saja.
Hal itu memang akan mengganggu orang-orang yang sedang shalat sunat, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa sambil menunggu khotib naik mimbar di masjid. Di sisi lain, kita diperintahkan mendengarkan dengan baik jika ayat Quran dibacakan:
"Dan apabila dibacakan(kepadamu) ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka dengarkanlah dia dan perhatikan agar kamu diberikan rahmat" (QS. Al-A'raf:204).
Hukum Membaca Al-Quran Dekat Orang Shalat
Nabi Saw juga dengan tegas melarang mengeraskan suara dalam membaca Al-Quran di masjid karena akan mengganggu konsentrasi jamaah lain.Diriwayatkan, Rasulullah Saw keluar menemui orang-orang yang sedang mengerjakan shalat, sementara suara mereka terdengar keras membaca Al-Quran, maka beliau bersabda:
“Sesungguhnya orang yang shalat itu bermunajat kepada Rabbnya, karenanya hendaklah dia memperhatikan dengan apa ia bermunajat. Dan janganlah sebagian dari kalian mengeraskan suara atas sebagian yang lain dalam membaca Al-Quran”. (HR. Malik, Ahmad, Al-Baihaqi).
Nabi Saw juga pernah menemui beberapa orang yang sedang shalat di bulan Ramadhan dan mereka mengeraskan bacaannya. Lalu beliau berkata pada mereka,
أَيُّهَا النَّاسُ كُلُّكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ
"Wahai sekalian manusia. Kalian semua sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Oleh karena itu, janganlah di antara kalian mengeraskan suara kalian ketika membaca Al Qur’an sehingga menyakiti saudaranya yang lain.” (HR. Abu Daud)
Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Dari sini (hadits di atas) tidak boleh bagi seorang pun mengeraskan bacaan Al-Qur’an-nya sehingga menyakiti saudaranya yang lain seperti menyakiti saudara-saudaranya yang sedang shalat.” (Majmu’ Al Fatawa). Wallahu a’lam bish-shawabi.*
Monday, May 18, 2015
Mayoritas Penghuni Neraka adalah Wanita
Apa Sebabnya Mayoritas Penghuni Neraka adalah Wanita?
IBNU Abbas r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Saya melihat ke dalam surga, (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir (miskin), dan saya melihat ke dalam neraka (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah wanita."
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., diterangkan, Rasulullah Saw bersabda: "Saya melihat ke dalam surga (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, dan saya melihat ke dalam neraka (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah orang-orang kaya dari kaum wanita."
Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Abdullah bin Umar r.a. diterangkan, Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai para wanita, bersedekahlah dan banyak-banyaklah ber-istighfar karena sungguh aku melihat kalian (wanita) sebagai mayoritas penghuni neraka."
Tiba-tiba salah seorang di antara mereka yang paling pandai bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa kami menjadi mayoritas penghuni neraka?"
Wanita itu pun bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang akal dan kurang agamanya itu?"
Nabi Saw menjawab, "Adapun kurang akal karena persaksian dua wantia menyamai persaksian satu orang laki- laki. Maka inilah yang dimaksud dengan kurang akal. Dan dalam beberapa hari kalian tidak shalat dan tidak berpuasa, maka inilah yang dimaksud dengan kurang agama."
Argumen lain --ini dalil aqli-- jumlah penghuni neraka lebih banyak wanita karena memang jumlah wanita di dunia lebih banyak dari pria. Demikian menurut berbagai data statistik yang diperkuat hadits Rasulullah Saw:
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah hilangnya ilmu dan menyebarluaskannya kebodohan, maraknya perzinahan, diminumnya khamar, banyaknya perempuan dan sedikitnya laki-laki sehingga 50 wanita diurus oleh satu pria." (HR. Bukhari,Muslim, dan Tirmidzi). Di akhir zaman, jumlah wanita dibanding pria 50:1.
Kesimpulan
Mayoritas Penghuni Neraka adalah Wanita karena:
1. Jumlah kaum perempuan itu lebih banyak dari kaum pria.
2. Wanita Kurang Akal
3. Wanita Kurang Agama
Wallahu a'lam bish-shawabi.*
IBNU Abbas r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Saya melihat ke dalam surga, (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir (miskin), dan saya melihat ke dalam neraka (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah wanita."
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., diterangkan, Rasulullah Saw bersabda: "Saya melihat ke dalam surga (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, dan saya melihat ke dalam neraka (dan ternyata) kebanyakan penghuninya adalah orang-orang kaya dari kaum wanita."
Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Abdullah bin Umar r.a. diterangkan, Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai para wanita, bersedekahlah dan banyak-banyaklah ber-istighfar karena sungguh aku melihat kalian (wanita) sebagai mayoritas penghuni neraka."
Tiba-tiba salah seorang di antara mereka yang paling pandai bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa kami menjadi mayoritas penghuni neraka?"
Rasulullah Saw menjawab, "Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami. Aku tidak melihat manusia yang kurang akal dan agamanya yang dapat mengalahkan manusia yang berakal sempurna (suami) selain daripada kalian."
Wanita itu pun bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang akal dan kurang agamanya itu?"
Nabi Saw menjawab, "Adapun kurang akal karena persaksian dua wantia menyamai persaksian satu orang laki- laki. Maka inilah yang dimaksud dengan kurang akal. Dan dalam beberapa hari kalian tidak shalat dan tidak berpuasa, maka inilah yang dimaksud dengan kurang agama."
Argumen lain --ini dalil aqli-- jumlah penghuni neraka lebih banyak wanita karena memang jumlah wanita di dunia lebih banyak dari pria. Demikian menurut berbagai data statistik yang diperkuat hadits Rasulullah Saw:
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah hilangnya ilmu dan menyebarluaskannya kebodohan, maraknya perzinahan, diminumnya khamar, banyaknya perempuan dan sedikitnya laki-laki sehingga 50 wanita diurus oleh satu pria." (HR. Bukhari,Muslim, dan Tirmidzi). Di akhir zaman, jumlah wanita dibanding pria 50:1.
Kesimpulan
Mayoritas Penghuni Neraka adalah Wanita karena:
1. Jumlah kaum perempuan itu lebih banyak dari kaum pria.
2. Wanita Kurang Akal
3. Wanita Kurang Agama
Wallahu a'lam bish-shawabi.*
Monday, May 11, 2015
Hukum Mengamalkan Hadits Dhoif
Apa Hukum Mengamalkan Hadits Lemah atau Dhaif?
TANYA:
1. Bagaimana bisa ibadah sholat Awwabin yang haditsnya lemah masuk pada ibadah utama?
2. Bagaimana hukum memakai (mengalamkan) hadits dhoif?
JAWAB:
1. Tidak ada yang mengatakan atau memasukkan sholat awwabin --yaitu shalat sunat yang dikerjakan setelah Sholat Maghrib dan Ba'diyahnya (Ba'da Magrib)-- sebagai ibadah utama, karena haditsnya lemah (dhoif) menurut para ulama ahli hadits.
Menurut mayoritas ulama, tidak mengapa jika seseorang mengerjakan shalat setelah itu (Ba’diyah Maghrib)m dengan mengerjakan enam, delapan, sepuluh, atau lebih banyak raka'at lagi. Itu termasuk Fadlaiul A'mal (keutamaan ibadah).
2. Banyak ulama membolehkan mengamalkan hadits lemah (dhoif) sepanjang menyangkut amal sholeh ghair-mahdhoh, untuk keutamaan ibadah (fadhoilul a’mal).
Hal itu seperti dikatakan Imam An-Nawawi dalam Muqaddimah Hadits Arba`in-nya. Namun, hadits lemah tidak bisa dijadikan hujjah atau dalil, apalagi untuk masalah "hukum positif" (hudud/pidana/perdata).
Sikap “paling aman” adalah tidak menjadikan hadits lemah sebagai rujukan sampai ditemukan hadits yang kuat (sahih/hasan), seperti pendapat Abu Bakar Ibnu ‘Arabi yang menolak sama sekali segala macam hadits dhoif, baik untukmenetapkan hukum maupun untuk memberi sugesti amal.
Contoh Hadits Dhoif
Menurut catatan sejumlah ulama ahli hadits, hadits-hadits yang populer di masyarakat berikut ini termasuk hadits dhoif karena perawinya ada yang dikenal pendusta atau sanad-nya terputus, tidak sampai kepada Rasulullah Saw:
Sumber: Syaikh Al-Albaniy, Adh-Dha’ifah, An-Nawawiy, Arba’in Nawawiyah; As-Sakhowiy, Al-Maqashid; Al-Qoul Asybah, Al-Hawi
TANYA:
1. Bagaimana bisa ibadah sholat Awwabin yang haditsnya lemah masuk pada ibadah utama?
2. Bagaimana hukum memakai (mengalamkan) hadits dhoif?
JAWAB:
1. Tidak ada yang mengatakan atau memasukkan sholat awwabin --yaitu shalat sunat yang dikerjakan setelah Sholat Maghrib dan Ba'diyahnya (Ba'da Magrib)-- sebagai ibadah utama, karena haditsnya lemah (dhoif) menurut para ulama ahli hadits.
Menurut mayoritas ulama, tidak mengapa jika seseorang mengerjakan shalat setelah itu (Ba’diyah Maghrib)m dengan mengerjakan enam, delapan, sepuluh, atau lebih banyak raka'at lagi. Itu termasuk Fadlaiul A'mal (keutamaan ibadah).
2. Banyak ulama membolehkan mengamalkan hadits lemah (dhoif) sepanjang menyangkut amal sholeh ghair-mahdhoh, untuk keutamaan ibadah (fadhoilul a’mal).
Hal itu seperti dikatakan Imam An-Nawawi dalam Muqaddimah Hadits Arba`in-nya. Namun, hadits lemah tidak bisa dijadikan hujjah atau dalil, apalagi untuk masalah "hukum positif" (hudud/pidana/perdata).
Sikap “paling aman” adalah tidak menjadikan hadits lemah sebagai rujukan sampai ditemukan hadits yang kuat (sahih/hasan), seperti pendapat Abu Bakar Ibnu ‘Arabi yang menolak sama sekali segala macam hadits dhoif, baik untukmenetapkan hukum maupun untuk memberi sugesti amal.
Contoh Hadits Dhoif
Menurut catatan sejumlah ulama ahli hadits, hadits-hadits yang populer di masyarakat berikut ini termasuk hadits dhoif karena perawinya ada yang dikenal pendusta atau sanad-nya terputus, tidak sampai kepada Rasulullah Saw:
- “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”;
- “Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup akan selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”;
- “Surat Yasin Hatinya Al-Qur’an”;
- “Perselisihan umatku adalah rahmat”;
- “Barangsiapa mengenal dirinya, dia akan mengenal Rabb-Nya”;
- “Perbanyak dzikir sampai dianggap gila”;
- “Keutamaan memakai sorban ketik sholat”; dll.
Demikian pandangan kami tentang Hukum Mengamalkan Hadits Dhoif. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawabi.*
Sumber: Syaikh Al-Albaniy, Adh-Dha’ifah, An-Nawawiy, Arba’in Nawawiyah; As-Sakhowiy, Al-Maqashid; Al-Qoul Asybah, Al-Hawi
Thursday, April 23, 2015
Rutin Beramal, Meski Sedikit, Disukai Allah SWT
Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.
YANG dimaksud amal dalam Islam adalah perbuatan baik yang mengandung manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan cara beramal itulah kehidupan seorang Muslim akan berkah, bahagia di dunia dan akhirat.
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS. An-Nahl:97).
Amal ibadah atau kebaikan harus dilakukan terus-menerus, rutin, sepanjang waktu. Seorang ulama mengatakan, sesungguhnya orang yang saleh adalah orang yang rajin ibadah sepanjang tahun.
Sahabat Nabi Saw, ’Alqomah, pernah bertanya pada Sitiu ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah Saw, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, ”Beliau Saw tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang terus-menerus.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Masih dari ’Aisyah, Nabi Saw bersabda, ”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (terus-menerus) walaupun sedikit.”
Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.”
Hasan Al-Bashri berkata: ”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya… Jika syaithon melihatmu terus-menerus dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan makin giat menggodamu.” Wallahu a’lam bish-shawabi. (http://inilahrisalahislam.blogspot.com).*
YANG dimaksud amal dalam Islam adalah perbuatan baik yang mengandung manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan cara beramal itulah kehidupan seorang Muslim akan berkah, bahagia di dunia dan akhirat.
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS. An-Nahl:97).
Amal ibadah atau kebaikan harus dilakukan terus-menerus, rutin, sepanjang waktu. Seorang ulama mengatakan, sesungguhnya orang yang saleh adalah orang yang rajin ibadah sepanjang tahun.
Sahabat Nabi Saw, ’Alqomah, pernah bertanya pada Sitiu ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah Saw, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, ”Beliau Saw tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang terus-menerus.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Masih dari ’Aisyah, Nabi Saw bersabda, ”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (terus-menerus) walaupun sedikit.”
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.”
Hasan Al-Bashri berkata: ”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya… Jika syaithon melihatmu terus-menerus dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan makin giat menggodamu.” Wallahu a’lam bish-shawabi. (http://inilahrisalahislam.blogspot.com).*
Monday, April 20, 2015
Keep Smile karena Senyum Memberimu Kekuatan
SENYUM itu sedekah. Senyum itu ibadah dan kebaikan. Selain berpahala, senyum juga menyehatkan. Senyum itu sama dengan olahraga ringan selama 20 menit! Senyum itu menebar kasih, kebahagiaan, dan keakraban.
Dalam Public Speaking, senyum menjadi hal utama yang wajib dilakukan untuk relaksasi, mengatasi ketegangan atau grogi. Senyum melancarkan aliran darah.
Begitu pentingnya senyum, Islam pun memberikan perhatian khusus soal "setengah tertawa" ini.
"Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah,” jelas Nabi Muhammad Saw dalam hadits populer Riwayat Tirmizi dan Abu Dzar. "Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah," sabda beliau dalam hadits yang lain (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).
Rasulullah Saw mengingatkan juga: “Jangan meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (senyum)” (HR. Muslim).
Dengan menggerakan satu kali senyum, maka ribuan urat saraf yang terdapat dalam seluruh tubuh mengalami pergerakan. Senyum membuat otot di wajah lebih kencang.
Wajah paling "sangar" sekalipun akan senantiasa tampak manis dan cantik kalau pemilik wajah tersenyum. Bagaimanapun, senyum jauh lebih utama daripada cemberut.
Konon, senyum juga bisa mengobati hati yang terluka atau tersakiti. Senyum membuat kita lebih ikhlas. Senyum memberi kesabaran, menguatkan jiwa!
Menurut Wikipedia, dalam fisiologi, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagian dan rasa senang.
Menurut Dr. Aidh al-Qarni dalam buku best sellernya, La Tahzan, kata "senyum" adalah kata yang indah dan menarik hati, menyenangkan, dan menggembirakan. Maka, tersenyumlah….! Keep smile...!
"Senyum adalah sedekah yang paling mudah. Senyum di waktu susah, tanda ketabahan. Senyuman itu tanda keimanan. Hati yang gundah terasa senang. Bila melihat senyum, hati ‘kan tenang . Tapi senyumlah seikhlas hati, senyuman dari hati jatuh ke hati,” kata Raihan dalam nasyidnya, Senyum. Wallahu a’lam bish-shawabi. (http://inilahrisalahislam.blogspot.com).*
Dalam Public Speaking, senyum menjadi hal utama yang wajib dilakukan untuk relaksasi, mengatasi ketegangan atau grogi. Senyum melancarkan aliran darah.
Begitu pentingnya senyum, Islam pun memberikan perhatian khusus soal "setengah tertawa" ini.
"Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah,” jelas Nabi Muhammad Saw dalam hadits populer Riwayat Tirmizi dan Abu Dzar. "Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah," sabda beliau dalam hadits yang lain (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).
Rasulullah Saw mengingatkan juga: “Jangan meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (senyum)” (HR. Muslim).
Menurut ilmu kesehatan, olahraga terbaik dan paling efektif untuk wajah adalah dengan tersenyum. Selain bisa mengurangi lemak pada wajah, tersenyum juga bisa mencegah munculnya kerutan pada wajah.
Dengan menggerakan satu kali senyum, maka ribuan urat saraf yang terdapat dalam seluruh tubuh mengalami pergerakan. Senyum membuat otot di wajah lebih kencang.
Wajah paling "sangar" sekalipun akan senantiasa tampak manis dan cantik kalau pemilik wajah tersenyum. Bagaimanapun, senyum jauh lebih utama daripada cemberut.
Konon, senyum juga bisa mengobati hati yang terluka atau tersakiti. Senyum membuat kita lebih ikhlas. Senyum memberi kesabaran, menguatkan jiwa!
Menurut Wikipedia, dalam fisiologi, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagian dan rasa senang.
Menurut Dr. Aidh al-Qarni dalam buku best sellernya, La Tahzan, kata "senyum" adalah kata yang indah dan menarik hati, menyenangkan, dan menggembirakan. Maka, tersenyumlah….! Keep smile...!
"Senyum adalah sedekah yang paling mudah. Senyum di waktu susah, tanda ketabahan. Senyuman itu tanda keimanan. Hati yang gundah terasa senang. Bila melihat senyum, hati ‘kan tenang . Tapi senyumlah seikhlas hati, senyuman dari hati jatuh ke hati,” kata Raihan dalam nasyidnya, Senyum. Wallahu a’lam bish-shawabi. (http://inilahrisalahislam.blogspot.com).*
Sunday, April 19, 2015
Muslim yang Baik Hindari Hal 'Gak Penting'
MUSLIM yang baik akan selalu berusaha meninggalkan kesia-siaan atau menjauhi hal-hal yang gak penting dan tidak bermanfaat. Orang beriman akan selalu berikhtiar mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat bagi diri dan orang lain, serta membawa dampak positif di dunia dan di akhirat.
Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:
“Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR Tirmidzi).
Imam Ibnu Rajab mengatakan dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam:
"Sesungguhnya barangsiapa yang baik Islamnya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting/bermanfaat baginya. Ukuran penting atau bergunanya itu tentu ditimbang dari syari'at, bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu.”
Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak akan berbicara kecuali hanya dalam hal yang penting saja.”
Imam Ibnu Qoyyim dalam Ad-Daa'u wad Dawaa' berkata, menjaga lisan dimaksudkan agar seseorang jangan sampai mengatakan hal yang sia-sia.
Bila hendak berkata, maka hendaknya dipikirkan apakah ada manfaat bagi dien/agamanya. Apakah akan terdapat manfaat dari apa yang diucapkannya itu?
Jika bermanfaat, maka katakan lagi, adakah kata-kata yang lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Demikian Ibnu Qoyyim menegaskan hadits Rasul bahwa Muslim yang baik akan mengindari hal-hal yang sia-sia alias "gak penting". Wallahu a’lam bish-shawabi. (Sumber: Perpustakaan-Islam).*
Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:
“Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR Tirmidzi).
Imam Ibnu Rajab mengatakan dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam:
"Sesungguhnya barangsiapa yang baik Islamnya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting/bermanfaat baginya. Ukuran penting atau bergunanya itu tentu ditimbang dari syari'at, bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu.”
Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak akan berbicara kecuali hanya dalam hal yang penting saja.”
Imam Ibnu Qoyyim dalam Ad-Daa'u wad Dawaa' berkata, menjaga lisan dimaksudkan agar seseorang jangan sampai mengatakan hal yang sia-sia.
Bila hendak berkata, maka hendaknya dipikirkan apakah ada manfaat bagi dien/agamanya. Apakah akan terdapat manfaat dari apa yang diucapkannya itu?
Jika bermanfaat, maka katakan lagi, adakah kata-kata yang lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Demikian Ibnu Qoyyim menegaskan hadits Rasul bahwa Muslim yang baik akan mengindari hal-hal yang sia-sia alias "gak penting". Wallahu a’lam bish-shawabi. (Sumber: Perpustakaan-Islam).*
Subscribe to:
Posts (Atom)






.jpg)