Showing posts with label Mutiara Hadits. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Hadits. Show all posts

Thursday, September 17, 2015

Pengertian Al-Kautsar: Nikmat yang Banyak & Sungai di Surga

makna al-kautsar
Al-Kautsar adalah nama telaga Rasulullah Saw di Surga. Al-Kautsar juga bermanka nikmat yang banyak dan ada pula pengertian, makna, atau tafsiran Al-Kautsar lainnya.

DALAM Shahih Muslim disebutkan, Anas r.a. berkata, "Suatu saat Rasulullah Saw di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?”

Rasulullah Saw menjawab: “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca (QS. Al Kautsar: 1-3): "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yg membercimu itu terputus (dari rahmat Allah)".

Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah Saw bersabda:

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (HR. Muslim, Abu Daud, Nasa’i).

Ragam Makna Al-Kautsar
Dalam sebuah Hadis lagi yang dirawikan oleh Muslim dan shahihnya, diterimanya dengan sanadnya daripada Anas bin Malik: “Al-Kautsar nama sebuah sungai sebelum menjelang ke syurga, di sanalah ummat Muhammad akan minum bersama Nabi seketika akan meneruskan perjalanan ke dalam Surga.”
  • Ikrimah menafsirkan Al-Kautsar ialah Nubuwwat.
  • Al-Hasan mengatakan: “Al-Qur’an.”
  • Al-Mughirah mengatakan: “Al-Islam.”
  • Husin bin Fadhal mengatakan: “Kemudahan syariat.”
  • Abu Bakar bin ‘Iyyasy dan Yaman bin Ri-ab mengatakan: “Banyak sahabat, banyak ummat, dan banyak pengikut.”
  • Al-Mawardi: “Tersebut namanya di mana-mana.”
  • Dan kata Al-Mawardi juga: “Cahaya bersinar dari dalam hatimu, menunjuk jalan menuju Aku dan memutuskan jalan yang selain Aku.”
  • Ibnu Kisan mentafsirkan: “Kasih-sayangmu kepada orang lain.”
  • Al-Mawardi pula mengatakan: “Al-Kautsar ialah syafa’at yang dianugerahkan kepada engkau untuk melindungi ummatmu di akhirat.”
  • Menurut Ats-Tsa’labi: “Suatu mu’jizat dari Tuhan, sehingga doa ummatmu yang shalih dikabulkan Tuhan jua.”
  • Menurut Hilal bin Yasaf: “Al-Kautsar ialah dua kalimat syahadat: La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah.”
Banyak lagi [tafsiran mengenai pengertian al-kautsar] yang lain, sehingga ada yang mengatakan bahwa dapat memahamkan agama sampai mendalam, pun adalah Al-Kautsar. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa sembahyang lima waktu pun adalah Al-Kautsar. (Sumber: Tafsir Al-Azhar & Tafsir Ibnu Katsir).*

Thursday, April 23, 2015

Rutin Beramal, Meski Sedikit, Disukai Allah SWT

Rutin Beramal, Meski Sedikit, Disukai Allah SWT
Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.
 
YANG dimaksud amal dalam Islam adalah perbuatan baik yang mengandung manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan cara beramal itulah kehidupan seorang Muslim akan berkah, bahagia di dunia dan akhirat.

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS. An-Nahl:97).

Amal ibadah atau kebaikan harus dilakukan terus-menerus, rutin, sepanjang waktu. Seorang ulama mengatakan, sesungguhnya orang yang saleh adalah orang yang rajin ibadah sepanjang tahun.

Sahabat Nabi Saw, ’Alqomah, pernah bertanya pada Sitiu ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah Saw, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, ”Beliau Saw tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang terus-menerus.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masih dari ’Aisyah, Nabi Saw bersabda, ”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (terus-menerus) walaupun sedikit.”

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ


Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.”

Hasan Al-Bashri berkata: ”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya… Jika syaithon melihatmu terus-menerus dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan makin giat menggodamu.” Wallahu a’lam bish-shawabi. (http://inilahrisalahislam.blogspot.com).*

Sunday, April 19, 2015

Muslim yang Baik Hindari Hal 'Gak Penting'

kucing tidur gak penting
MUSLIM yang baik akan selalu berusaha meninggalkan kesia-siaan atau menjauhi hal-hal yang gak penting dan tidak bermanfaat.  Orang beriman akan selalu berikhtiar mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat bagi diri dan orang lain, serta membawa dampak positif di dunia dan di akhirat.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:

“Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR Tirmidzi).

Imam Ibnu Rajab mengatakan dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam:

"Sesungguhnya barangsiapa yang baik Islamnya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting/bermanfaat baginya. Ukuran penting atau bergunanya itu tentu ditimbang dari syari'at, bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu.”

Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak akan berbicara kecuali hanya dalam hal yang penting saja.”

Imam Ibnu Qoyyim dalam Ad-Daa'u wad Dawaa' berkata, menjaga lisan dimaksudkan agar seseorang jangan sampai mengatakan hal yang sia-sia.

Bila hendak berkata, maka hendaknya dipikirkan apakah ada manfaat bagi dien/agamanya. Apakah akan terdapat manfaat dari apa yang diucapkannya itu?

Jika bermanfaat, maka katakan lagi, adakah kata-kata yang lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Demikian Ibnu Qoyyim menegaskan hadits Rasul bahwa Muslim yang baik akan mengindari hal-hal yang sia-sia alias "gak penting". Wallahu a’lam bish-shawabi. (Sumber: Perpustakaan-Islam).*