Wednesday, May 28, 2014

Masalah Da'i atau Penceramah yang Cari Popularitas

ceramah dakwah islam
Bagaimana hukumnya jika ada da'i atau penceramah agama, hanya mau ceramah jika dibayar tinggi atau punya niat lain? Benarkah banyak penceramah (da’i) yang hanya mencari popularitas?

JAWAB: Kita berprasangka baik (husnuzhan) saja. Para penceramah tentunya melaksanakan dakwah Islam secara ikhlas karena Allah, demi syiar Islam.

Jika memang ada yang mau ceramah jika dibayar tinggi, artinya ia punya motivasi lain. Biarlah itu urusan yang bersangkutan dengan Allah SWT.

Demikian pula jika ada da’i yang mencari popularitas, itu urusannya dengan Allah SWT. Yang jelas, dakwah adalah kewajiban semua Muslim, terutama Muslim yang dianugerahi pemahaman ilmu agama oleh Allah SWT.

Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: Mengapa ucapan-ucapan para salaf (generasi ulama terdahulu) lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita? Beliau menjawab: Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan mencari ridha Ar-Rahman (Allah SWT), sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia, dan mencari ridha  manusia!

Ulama generasi salaf berdakwah, memberi nasihat, atau ceramah agama dengan ikhlas, tanpa bayaran, tanpa memasang tarif. Dampaknya, nasihat mereka efektif, berdampak, dan diingat hingga generasi Islam masa kini.

Dengan demikian , jila ada ulama, da’i, penceramah, dan umumnya umat Islam masa kini, yang memberi nasihat agama (ceramah) secara tidak ikhlas, ada niat demi kemuliaan diri, mengejar dunia, dan mencari ridha manusia, atau “karena dibayar”, tidak berdampak dan takkan mampu mengubah akhlak masyarakat.

Al-Imam Ibnu Rajab menjelaskan, orang yang menampakkan ucapan dan perbuatannya kepada manusia perbuatan yang baik, tetapi ia mempunyai maksud mencapai tujuan yang buruk, lalu dipuji oleh manusia disebabkan perbuatan baik yang ia tampakkan padahal mempunyai tujuan yang buruk, lalu dia gembira dengan pujian manusia, maka orang tersebut diancam oleh Allah Ta’ala dengan adzab yang sangat pedih.

“Janganlah kamu sekali-kali menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” [QS. Ali Imran:188]. Wallahu a’lam bish-shawabi.*

Tuesday, May 13, 2014

Niat Baik Itu Berpahala

menanam kebaikan
PUNYA niat berbuat baik? Misalnya, menolong sesama yang sedang susah, sedekah, atau amal baik lainnya? Insya Allah, niat baik itu sudah dicatat oleh Allah sebagai sebuah kebaikan.

Niat baik itu berpahala, meski tidak jadi dilaksanakan. Pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat jika niat baik itu benar-benar dilaksanakan.

"Allah mencatat kebaikan dan  keburukan kemudian menjelaskannya.  Barangsiapa ber-himmah (niat) amal kebaikan dan kemudian tidak mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya kebaikan yang sempurna. Apabila ia berniat kebaikan dan mengerjakannya, Allah membalasnya 10 kebaikan sampai 700 kali lipat lebih banyak.  Dan apabila berniat keburukan kemudian tidak mengerjakannya, Allah mencatatnya kebaikan yang sempurna.  Dan apabila berniat buruk dan mengerjakannya, Allah mencatat dengan satu keburukan" (HR.  Bukhari dan Muslim).

Masya Allah.... Betapa Maha Kasih Allah SWT. Niat saja sudah dibalas kebaikan (pahala). Maka, mari kita senantiasa berbuat baik agar hidup ini berkah.

Makna kebaikan sangat luas. Dalam Islam  disebut amal saleh, al-birru, dan ihsan, yang merujuk pada kewajiban sebagai Muslim, seperti shalat, zakat, puasa, haji, menolong sesama, menuntut ilmu, membaca Al-Quran, dzikir, berdoa, hingga tersenyum kepada sesama dan menyingkirkan duri di tengah jalan.

Pahala dari Allah SWT dapat berbentuk nikmat, ketenangan jiwa, rezeki, terhindari dari bahaya, teratasinya masalah, jalan keluar dari sebuah kesulitan, dan di akhirat pahala itu berupa terhindar dari neraka alias masuk surga.

Mari senantiasa berusaha menanam kebaikan agar menuai kebaikan pula. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita hidahay agar kita selalu berniat baik dan bertekad serta benar-benar melaksanakan kebaikan. Amin....! Wallahu a’lam.*

Delapan Perhiasan Amal yang Wajib Dipelihara

PERHIASAN adalah sesuatu yang menyenangkan. Dalam amal kebaikan juga perhiasan yang tidak boleh lepas, bukan saja agar amal itu indah, tapi juga diterima oleh Allah SWT sebagai amal kebaikan. Setidaknya ada delapan perhiasan amal yang wajib ada dalam setiap amal kebaikan.

Kedelaan perhiasan amal ini dikemukakan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., sahabat terdekat Nabi Saw dan pembela terkemuka dakwah risalah Islam.

Abu Bakar berkata, ada delapan perkara yang merupakan perhiasan bagi delapan perkara yang lain, yaitu:
  1. Memelihara diri dari meminta-minta merupakan perhiasan bagi kefakiran.
  2. Bersyukur kepada Allah SWT merupakan perhiasan bagi nikmat yang telah diberikan-Nya.
  3. Sabar adalah perhiasan bagi musibah.
  4. Tawadhu adalah perhiasan bagi (kemuliaan) nasab (keturunan).
  5. Santun adalah perhiasan bagi ilmu.
  6. Rendah hati adalah perhiasan bagi seorang pelajar.
  7. Tidak menyebut-nyebut pemberian merupakan perhiasan bagi kebaikan.
  8. Khusyu' adalah perhiasan bagi shalat.
Rasulullah Saw bersabda: "Kasihanilah pemuka suatu kaum yang telah menjadi hina. Kasihanilah orang kaya yang jatuh miskin. Kasihanilah orang 'alim yang tersia-sia di antara orang-orang yang tidak berpengetahuan."

"Barangsiapa keluar rumah dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan membukakan pintu surga baginya; para malaikat akan memberi keteduhan dengan membentangkan sayapnya baginya; dan para malaikat yang ada di langit dan ikon-ikon yang ada di lautan memohon ampunan dan rahmat untuknya." (HR. Abu Ya'la). (Sumber: Nashaihul Ibad - Imam Nawawi Al Bantani).

Semoga kita bisa memelihara kehormatan diri dan keluarga dari kefakiran. Semoga Allah menghindarkan diri kita dari kefakiran (kemiskinan) dan menjadi peminta-minta.

Semoha kita mampu senantiasa bersyukur saat menerima nikmat, sabar dalam menghadapi musibah, tawadhu ketika ditakdirkan masuk keturunan terpandang, santun ketika berilmu, rendah hati ketika belajar, tidak mengungkap sedekah, dan khusyu' tiap kali shalat. Amin...! Wallahu a'lam.*

Friday, May 2, 2014

Sulitnya Memberantas Bid'ah di Kalangan Umat Islam

Memberantas amal perbuatan bid'ah di kalangan umat Islam sangatlah sulit. Bahkan, lebih sulit daripada menghapus kemaksiatan. Masalahnya, pelaku bid'ah (ahlul bid'ah) merasa yang dilakukannya baik dan benar, dan selalu punya argumen (alasan) untuk membenarkan amalan bid'ahnya.

Alasan yang paling sering dikemukakan oleh ahli bid'ah adalah bahwa amalannya termasuk BID'AH HASANAH, bid'ah yang baik. Padahal, sudah jelas sabda Nabi Saw bahwa "SELURUH BID'AH ITU SESAT".

“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676).

Seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i berkata mengenai maksud bid’ah itu sesat, “Yang dimaksud setiap bid’ah itu sesat adalah setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum” (Fathul Bari, 13: 254).

Ibnu Rajab dari madzhab Hambali juga mengatakan, “Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128).

Ahli Bid'ah Merasa Benar, Balik Menuding

Tidak mungkin rasanya kita bisa mengubah sikap orang yang merasa benar, kecuali atas bantuan hidayah Allah SWT.

Ketika kita mengatakan bahwa suatu amalan itu bid'ah, maka para ahli bid'ah akan melakukan "serangan balik" dengan mengatakan bahwa kita adalah Salafi, Wahabi, atau apalah. Salafi-Wahabi bahkan dimusuhi oleh para ahli bid'ah. Padahal, mereka tidak paham apa itu Salafi dan Wahabi.

Bahkan ketika kita menjelaskan apa sebanrnya Salafi-Wahabi, para ahli bid'ah pun masih saja "melawan", misalnya dengan mengatakan bahwa kita termasuk kelompok Salafi-Wahabi. Masya Allah....!

Para ahli bid'ah lupa, agama Allah SWT ini (Islam) sudah sempurna. Pelaku bid'ah bisa dikatakan mengingkari ayat tentang kesempurnaan Islam ini, karena mereka masih saja membuat amalan baru yang tidak dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabat.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah:3).

Semoga kita semua mendapatkan hidayah dari Allah Swt agar senantiasa beramal ibadah sesuai dengan sunah Rasul sehingga diterima sebagai amal ibadah. Soalnya, amalan bid'ah jelas ditolak oleh Allah SWT.

Soal perkara bid'ah, tugas kita HANYALAH MENYAMPAIKAN, tabligh. Bukan urusan kita apakah yang kita sampaikan itu diterima atau tidak, karena HIDAYAH ITU URUSAN ALLAH SWT saja. Wallahu a'lam bish-showaabi.*

Thursday, April 24, 2014

Menguap dan Bersin Menurut Islam

Menguap dan Bersin Menurut Islam
Menguap dan Bersin merupakan “kegiatan rutin” yang biasa kita lakukan. Menguap biasanya karena mengantuk atau capek. Bersin umumnya karena terserang flu atau ada bibit penyakit masuk hidung.

Bagaimana Menguap dan Bersin Menurut Islam?

Berikut ini beberapa hadits Nabi Muhammad Saw tentang menguap dan bersin. Risalah Islam memang agama sempurna. Soal “kecil” ini pun menjadi perhatian sehingga kaum Muslim bisa menjalani hidupnya dengan benar dan diridhai Allah Swt.

MENGUAP
"Menguap adalah dari setan. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian menguap, tutuplah serapat mungkin karena ketika salah seorang dari kalian berkata ‘huah’ (pada saat menguap), setan akan menertawakannya." (HR. Bukhari).

"Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Jika seseorang bersin dan mengucapkan alhamdulillah, maka bagi semua muslim yang mendengar hendaknya mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah). Adapun menguap berasal dari syaitan. Oleh karena itu hendaklah dilawan semampunya dan jika ia katakan, 'aah', maka syaitan pun tertawa." (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. pernah bersabda, 'Jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaklah ia menahan mulutnya dengan tangannya, sebab syaitan akan masuk." (HR Muslim).

Etika Menguap
Dalam Ensiklopedi Adab Islam terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i disebutkan, berdasarkan hadits-hadits di atas, maka etika atau adab seorang Muslim dalam menguap adalah sebagai berikut:

1. Meletakkan tangan di mulut agar mulut tidak terbuka. Saat manusia menguap dengan mulut terbuka itu, ia terlihat buruk dan saat itu juga setan sedang menertawakannya.

2. Tidak mengeluarkan suara ‘aaah ’ atau "huwaaah". yang akan menimbulkan tertawaan setan.

3. Tidak mengangkat suara.Terkadang sebagaian orang jahil mengangkat suaranya ketika meng uap dengan maksud ingin membuat sekelilingnya tertawa. Tentunya setan juga menertawakannya.

BERSIN
 “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Karenanya apabila salah seorang dari kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka kewajiban atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mentasymitnya (mengucapkan yarhamukallah). Adapun menguap, maka dia tidaklah datang kecuali dari setan. Karenanya hendaklah menahan menguap semampunya. Jika dia sampai mengucapkan ‘haaah’, maka setan akan menertawainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,  beliau bersabda, “Ababila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Bila salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah maka tasymitlah dia. Tapi bila dia tidak memuji Allah, maka jangan kamu tasymit dia.” (HR. Muslim). Tasymit adalah mengucapkan ‘yarhamukallah’.


 “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi).*

Monday, April 7, 2014

Hukum Tarif Ceramah Ustadz

tarif ceramah ustadz
Assalamu'alaikum.... Bagaimana Hukum Tarif Ceramah Ustadz? Dan sedikit saran nih... Bagaimana kalau ceramah/dakwah para ustadz tarifnya jangan mahal! Soalnya masyarakat mulai sedikit tidak percaya kpada para ustadz. Soalnya banyak yang beranggapan para ustadz hanya cari uang dari dakwah. Mohon tanggapan.

JAWAB: Wa'alaikum salam wr wb. Para ustadz yang memasang tarif mahal jika diundang ceramah, silakan diskusikan dengan manajemen ustadz ybs.

Dakwah itu kewajiban setiap Muslim. Para ustadz (mestinya) tidak perlu dan tidak pernah memasang tarif (honor), seandainya nafkah hidup mereka dijamin dan dipenuhi oleh pemerintah (ulil amri) atau oleh umat Islam melalu dana ZIS (Zakat Infak Sedekah).

Namun demikian, kami juga tidak setuju jika dikatakan para ustadz (penceramah) hanya cari uang dengan berdakwah. Meskipun kita sering dengar, ada ustadz yang tarifnya "sekian juta" sekali ceramah, sampai-sampai ada juga ustadz yang menolak jadi khotib Jumat hanya karena honor khotbahnya kecil.

Yang namanya ulama, kyai, atau ajengan TIDAK AKAN minta bayaran untuk berdakwah. “Bayaran” mereka dari Allah Swt yang tidak ternilai dengan materi. Dakwah kewajiban semua Muslim, utamanya para ulama yang memang pewaris nabi untuk syiar Islam.

Pada zaman Nabi Saw dan para sahabat, para guru agama (ustadz kalau zama sekarang) nafkah hidupnya dijamin oleh Baitul Mal. Semoga di kita pun bisa demikian.

Pada dasarnya, dalam risalah Islam, seseorang yang mengajarkan Al-Quran dan ilmu-ilmu yang bermanfaat berhak mendapatkan upah atas jasanya itu. Seorang guru atau ustadz yang telah berjuang di jalan Allah untuk mengajarkan ilmu-ilmu Islam, pada dasarnya berhak untuk mendapatkan upah atas keringatnya itu, namun jika memasang tarif hingga jutaan rupiah, yang tak sanggup dibayar jamaah, maka bagaimana nasib dakwah Islam?

"Dan janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa" (QS. Al-Baqarah: 41). Wallahu a’lam.*

Thursday, April 3, 2014

Shalat Subuh Tidak Qunut, Boleh?

Shalat Subuh Tidak Qunut
Kalau sholat subuh ‘nggak pake do'a Qunut apa boleh? Apa hukumnya shalat Subuh tidak Qunut?

JAWAB: Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca doa Qunut dalam shalat subuh, masing-masing dengan dalil hadits, namun pendapat terbanyak: “tidak ada qunut dalam shalat Subuh, kecuali ada sebab yang terkait dengan kaum muslimin secara umum”, misalnya ada bencana.

Imam Abu Hanifah mengatakan, qunut itu disunnahkan pada shalat witir yang dilakukan sebelum ruku'. Sedangkan pada shalat subuh, ia tidak menganggapnya sebagai sunnah, sehingga bila seorang makmum shalat Subuh di belakang imam yang melakukan qunut, hendaknya dia diam saja dan tidak mengikuti atau mengamini imam.

Namun Abu Yusuf, salah seorang tokoh dari mazhab Hanafi mengatakan, bila imamnya melakukan qunut, maka makmumnya harus mengikutinya, karena imam itu harus diikuti.

Imam Malik mengatakan, qunut itu merupakan ibadah sunnah pada shalat subuh dan lebih afdhal dilakukan sebelum ruku'. Meskipun bila dilakukan sesudahnya tetap dibolehkan.

Menurutnya, melakukan qunut secara zhahir dibenci untuk dilakukan kecuali hanya pada shalat subuh saja. Qunut itu dilakukan dengan sirr, yaitu tidak mengeraskan suara bacaan. Sehingga baik imam maupun makmum melakukannya masing-masing atau sendiri-sendiri. Dibolehkan untuk mengangkat tangan saat melakukan qunut.

Imam As-Syafi'i ra mengatakan, qunut itu disunnahkan pada shalat subuh dan dilakukan sesudah ruku' pada rakaat kedua. Imam hendaknya berqunut dengan lafaz jama' dengan menjaharkan (mengeraskan) suaranya dengan diamini oleh makmum hingga lafaz (wa qini syarra maa qadhaita).

Setelah itu dibaca secara sirr (tidak dikeraskan) mulai lafaz (Fa innaka taqdhi ...), dengan alasan bahwa lafaz itu bukan doa tapi pujian (tsana`). Disunnahkan pula untuk mengangkat kedua tangan namun tidak disunnahkan untuk mengusap wajah sesudahnya.

Menurut mazhab ini, bila qunut pada shalat shubuh tidak dilaksanakan, maka hendaknya melakukan sujud sahwi, termasuk bila menjadi makmum dan imamnya bermazhab Al-Hanafiyah yang meyakini tidak ada kesunnahan qunut pada shalat subuh. Maka secara sendiri, makmum melakukan sujud sahwi.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, qunut itu merupakan amaliyah sunnah yang dikerjakan pada shalat witir yaitu dikerjakan setelah ruku. Sedangkan qunut pada shalat subuh tidak dianggap sunnah oleh beliau.

Meski demikian, jika ada imam melakukan qunut pada shalat Subuh, maka para makmum tetap mengikuti qunut imam dan mengaminkan doanya, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad demi menjaga persatuan kaum Muslimin.

Menurut Ibnu Utsaimin, “Qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab syar’i yang menuntut untuk melakukannya adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah Rasul. Rasulullah Saw tidak pernah qunut shubuh secara terus menerus tanpa sebab. Yang ada beliau melakukan qunut di semua shalat wajib ketika ada sebab.”

Para ulama menyebutkan, Rasulullah Saw qunut di semua shalat wajib jika ada bencana yang menimpa kaum Muslimin yang mengharuskan untuk melakukan qunut. Qunut ini tidak hanya khusus pada shalat shubuh, namun dilakukan pada semua shalat wajib.

Dari Anas bin Malik r.a., “Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw melakukan Qunut selama sebulan, beliau mengutuk mereka (kaum yang zhalim), kemudian Nabi meninggalkannya. Adapun pada waktu shalat Shubuh Nabi tetap melakukannya sampai beliau wafat.” (HR. Baihaqi).

Dari Ibnu Mas'ud r.a., "Bahwasanya Nabi SAW pernah melakukan qunut salat Subuh selama sebulan, tetapi kemudian ditinggalkannya."

Abû Mâlik al-asyja’i Sa’ad bin Tharîq berkata: “Aku bertanya kepada bapakku: Wahai bapakku, sungguhkah engkau pernah shalat dibelakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman serta Ali di Kufah ini selama lebih dari lima tahun. Apakah mereka pernah melakukan qunut dalam shalat shubuh? Beliau menjawab: Tidak benar Wahai anakku! Itu perkara baru (bid’ah). (HR. Ibnu Mâjah dan dishahîhkan Al-Albâni dalam Irwâ’ al-Ghalîl No. 435). Wallahu a’lam.*